My Widget

header ads

Metode Pemupukan Urea, Sp-36 Dan Kcl Pada Padi Sawah

Metode Pemupukan Urea, Sp-36 Dan Kcl Pada Padi Sawah

Guna mempertahankan swasembada pangan memerlukan usaha optimalisasi penggunaan pupuk yang dapat menuju kepada tercapainya efisiensi pemupukan dengan menggunakan pupuk secara rasional sesuai dengan kemampuan tanah menyediakan hara, sumbangan hara dari air pengairan dan kebutuhan tanaman.

Rekomendasi pemupukan yang diberikan pemerintah melalui Departemen Pertanian didasarkan kepada pengujian-pengujian lapang yang bersifat agronomis dan merupakan rekomendasi umum yang bersifat nasional tanpa memperhatikan sifat-sifat tanah dan kebutuhan tanaman.

Sejak tahun 1968, pemerintah telah merekomendasikan pemupukan untuk padi sawah jenis unggul berdasarkan hasil penelitian IRRI, yaitu 90-120 kg N, 30-60 kg P2O5, dan 30-50 kg K2O per hektar (Taslim, et al., 1993). Penggunaan rekomendasi pupuk tersebut yang dimulai dari program BIMAS dan Intensifikasi Khusus (INSUS) untuk semua jenis lahan dan daerah dalam kurun waktu yang lama telah menyebabkan terjadinya akumulasi beberapa unsur hara seperti P dan K.

Penggunaan  pupuk cenderung tidak terkendali,  antara lain tercermin dari aplikasi pupuk  Urea tanpa memperhatikan kapan waktu tanaman padi membutuhkan tambahan hara  N. Disamping itu, terdapatnya penimbunan hara P  disebagian besar  sawah intensifikasi sebagai akibat intensifnya  penggunaan pupuk TSP/SP-36 selama ini. Berbeda dengan pupuk N, pupuk P tidak mudah menguap, tercuci atau terbawa oleh air.  

Meskipun hara P tersedia di tanah, tetapi hanya sedikit sekali yang termanfaatkan oleh tanaman. Pemberian  pupuk  P pada lahan sawah  secara  terus  menerus setiap  musim  tanam dan dengan takaran yang  tinggi  menyebabkan terjadinya  penimbunan  (akumulasi)  hara P  di  tanah,  sehingga efisiensi  pemupukan menjadi turun. 

Penelitian membuktikan  bahwa di  sebagian  besar  lahan  sawah  intensifikasi  telah   terjadi akumulasi  hara  dari pupuk P yang diberikan (Adiningsih  et al., 1990). 
Di Kota Padang dari 6.873 ha lahan sawah seluas 93% berkadar P tinggi, 6% sedang dan 1% tergolong rendah, sedangkan kandungan K tanah seluas 1% tergolong tinggi, 62% sedang dan 37% tergolong rendah. 

Di Kabupaten Padang Pariaman, dari 20.403,9 ha lahan sawah yang disurvey, seluas 42% berkadar P tinggi, seluas 43% sedang dan 15% rendah, sedangkan berdasarkan kandungan K tanah seluas 16% tinggi, 74% sedang dan 10% rendah (Burbey et al., 2003).

Sebagian besar tanah-tanah sawah irigasi di Jawa sudah terjadi akumulasi hara P yang sangat tinggi dan kapasita penyediaan hara K dari dalam tanah yang sudah cukup untuk mendukung produksi padi sampai 4-6 t/ha, sehingga penerapan pupuk P dan K pada saat ini belum menjadi masalah utama di tingkat petani (Dobermann dan Fairhurst. 2000).

Guna meningkatkan efisiensi pemupukan pada lahan sawah diperlukan metode penentuan rekomendasi pemupukan N, P dan K padi sawah spesifik lokasi. Rekomendasi pemupukan spesifik lokasi dimana rekomendasi pupuk didasarkan status hara tanah dan kebutuhan hara tanaman.

MACAM DAN PENETAPAN KEBUTUHAN PUPUK

1. pupuk Nitrogen (Urea)

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk N (Urea) petani dapat menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). BWD dapat menentukan apakah tanaman memerlukan pupuk N atau tidak, kalau memerlukan berapa takaran yang harus diberikan. Penggunaan BWD dapat menekan pemakaian pupuk N sebanyak 15-20% dari takaran yang digunakan petani tanpa menurunkan hasil (Abdulrachman 2002). BWD berbentuk persegi panjang dengan 4 kotak skala warna, mulai dari hijau muda hingga hijau tua

Rekomendasi pemupukan N (Urea) ditentukan berdasarkan tinggi rendahnya produktivitas padi per musim tanam, dengan petunjuk waktu aplikasi mengacu pada pendekatan Bagan Warna Daun (BWD).

Ada dua cara pemberian pupuk N (Urea) dengan menggunakan BWD yaitu :

1). Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (Fixed Time)

Dengan cara ini, penggunaan BWD dilakukan pada pemupukan kedua dilakukan pada stadia anakan aktif (21-28 HST) dan pemupukan ketiga pada saat primordia bunga (35-40 HST), sedangkan pupuk dasar diberikan dengan takaran 75 kg urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg urea/ha pada musim hasil rendah.

Pada saat pemupukan kedua bila pengukuran BWD pada skala 2-3, berikan 125 kg Urea/ha bila hasil yang biasa dicapai disuatu tempat sebesar 7 t/ha Gabah Kering Giling (GKG) dan 75 kg urea/ha kalau tingkat hasil sebesar 5 t/ha GKG. Bila warna daun berada pada skala 3 dan 4  berikan 100 kg Urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai adalah 7 t GKG/ha. Bila warna daun pada skala 4 dan 5, berikan 50 kg urea/ha kalau hasil yang biasa dicapai 7-8 t GKG/ha (Tabel 2).

Tabel 1. Takaran Urea yang diberikan sesuai dengan Skala Warna Daun pada Penggunaan BWD Berdasarkan Waktu Pemberiannya yang telah ditetapkan (Fixed Time).


Skala warna
Takaran Pupuk Urea (kg/ha)/Tingkat hasil (t/ha GKG)*)
5
6
7
8
< 4
50
75
100
125
*)Tingkat hasil pada kondisi kebutuhan tanaman akan unsur hara P dan K serta faktor pertumbuhan lainnya yang optimal.

2. Pupuk P dan K

Untuk menentukan kebutuhan P dan K tanaman dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu a). Berdasarkan analisis kimia tanah di laboratorium, b). Berdasarkan hasil uji perangkat sederhana Uji Tanah Sawah (PUTS/Soil Test Kit), dan c). Berdasarkan respon tanaman terhadap pupuk berdasarkan metode petak omisi (Omission Plot).

1) Berdasarkan Analisis Kimia Tanah

Analisis kimia tanah (Uji Tanah) adalah suatu cara untuk menentukan status unsur hara dalam tanah sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan. Ada tiga tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu : 1). Studi korelasi yang bertujuan untuk mendapatkan metode ekstraksi terbaik untuk analisis  tanah di laboratorium dan rumah kaca, 2). Studi kalibrasi untuk menentukan batas kritis suatu unsur hara terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, dan 3). penyusunan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi (Sofyan, Nurjaya, dan Kasno, 2004).

Berdasarkan hasil analisis kimia tanah ini, rekomendasi pemupukan P pada lahan sawah berstatus P rendah (< 20 mg P2O5) sebanyak 100-125 kg SP-35/ha/MT, pada lahan sawah berstatus P sedang (20-40 mg P2O5) sebanyak 75 kg SP-36/ha/MT, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (> 40 mg P2O5) sebanyak 50 kg SP-36/ha/MT (Tabel 3).

Tabel 3. Rekomendasi pemupukan P pada padi sawah berdasarkan kriteria hasil analisis tanah.

Status P tanah
Kadar P2O5 (HCl 25%)   (mg/100 g tanah)
Rekomendasi P (kg SP-36/ha/MT)
Rendah
Sedang
Tinggi
< 20
20 - 40
> 40
100-125
75
50
Rekomendasi pupuk KCl sangat ditentukan oleh pengembalian/pemberian jerami ke lahan sawah. Bila jerami dikembalikan ke lahan, maka pemberian pupuk KCl cukup diberikan pada lahan sawah dengan status K rendah sebanyak  50 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berkadar K sedang dan tinggi tidak perlu diberi pupuk KCl. Bila jerami tidak dikembalikan ke lahan, rekomendasi pemupukan K pada lahan sawah berstatus K rendah sebanyak 100 kg KCl/ha serta 50 kg KCl/ha pada lahan sawah berstatus K sedang-tinggi (Tabel 4).

Tabel 4. Rekomendasi pupuk KCl berdasarkan kriteria status hara K tanah.
Status hara K
Kadar K2O (HCl 25%) (mg/100 g tanah)
Rekomendasi (kg KCl/ha)
Tanpa Jerami
Dengan Jerami
Rendah
Sedang
Tinggi
< 10
10 – 20
> 20
100
50
50
50
0
0

2) Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS)

PUTS merupakan suatu perangkat untuk pengukuran status hara P, K, dan pH tanah secara langsung dilapangan dengan relatif cepat, mudah, dan cukup akurat. PUTS terdiri dari pelarut (pereaksi) P, K, dan pH tanah serta peralatan pendukung lainnya (Widowati, 2004). Contoh tanah sawah yang telah diekstrak dengan pereaksi ini akan memberikan perubahan warna dan selanjutnya kadarnya diukur secara kualitatif.

Perinsip kerja PUTS adalah mengukur hara P dan K tanah yang terdapat dalam bentuk yang tersedia, secara semi kuantitatif dengan metode kalorimetri (pewarnaan). Pengukuran status P dan K tanah berdasarkan acuan menurut Setyorini (2004), dikelompokkan menjadi tiga ketegori yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T). Berdasarkan acuan tersebut didapat rekomendasi pemupukan P (SP-36) dan K (KCl) seperti yang disajikan pada Tabel 3 dan 4.

3) Berdasarkan Petak Omisi

IRRI bersama beberapa lembaga teknis pertanian di beberapa negara, termasuk Indonesia telah mengembangkan suatu model melalui penelitian secara empiris yang dapat digunakan untuk menduga kebutuhan pupuk untuk tanaman padi melalui bantuan petak omisi (Omission Plot) (Abdulrachman, Witt, dan Fairhurst (2002). Pendekatan petak omisi dirancang untuk memastikan dan menyempurnakan dosis rekomendasi yang ada berdasarkan status hara tanah, dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi terhadap ketersediaan unsur hara alami. Konsep dasar dari pendekatan petak omisi adalah menentukan rekomnedasi pemupukan dengan terlebih dahulu mengetahui kemampuan tanah secara alami dalam menyediakan unsur hara melalui pembuatan petak omisi.

Petak omisi adalah suatu petak perlakuan yang tidak diberi dengan salah satu unsur hara atau pupuk. Selanjutnya dengan memperhitungkan selisih hasil antara petak omisi dengan hasil tertinggi yang mungkin dicapai, dapat diketahui takaran rekomendasi pemupukan (Abdulrachman, Witt, dan Fairhurst, 2002).

Pendekatan petak omisi secara teknis lebih praktis dan lebih mudah dipraktekkan oleh petani secara mandiri. Secara ilmiah, pendekatan petak omisi tidak kontradiktif dengan hasil uji tanah, bahkan bisa saling komplementer dengan peta status hara P dan K lahan sawah. Oleh karena itu untuk mendapatkan rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi lahan sawah, maka pendekatan petak omisi perlu dilakukan. Berdasarkan petak omisi akan diperoleh rekomendasi pemupukan P dan K spesifik lokasi, sehingga target hasil yang ingin dicapai disetiap daerah dapat ditentukan, sehingga efisiensi pemakaian pupuk P dan K dapat ditingkatkan.

Cara penentuan rekomendasi pemupukan P dan K dimulai dengan melakukan pengujian sederhana petak omisi P dan K dengan perlakuan  1). Tanpa N, dipupuk P dan K, 2). Tanpa P, dipupuk N dan K, 3). Tanpa K, dipupuk N dan P, dan 4). Dipupuk NPK. Tata letak pengujian disajikan pada Gambar 2.

Berdasarkan tingkat perbedaan hasil tanpa pupuk P dan K dengan pemupukan lengkap NPK maka didapat rekomendasi pemupukan P dan K sesuai dengan tingkat hasil yang ingin dicapai di lokasi pengujian. Bila tingkat perbedaan hasil tanpa P kecil (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 50 dan 75 kg SP-36/ha. Bila tingkat perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha) serta tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 75 dan 100 kg SP-36/ha serta  100 dan 125 kg SP-36/ha (Tabel 5).

Tabel 5. Rekomendasi pemupukan P berdasarkan tingkat perbedaan hasil antara petak omisi tanpa pupuk P dengan pemupukan lengkap NPK.

Target hasil
Pupuk P2O5 (kg SP-36/ha)
Beda hasil rendah  (< 1 t/ha)
Beda hasil sedang (1-2 t/ha)
Beda hasil tinggi (> 2 t/ha)
5 t/ha
50
75
100
7 t/ha
75
100
125

Berdasarkan petak omisi K, bila tingkat perbedaan hasil tanpa K rendah (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5  t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha dan dengan pengembalian jerami ke lahan sawah tanpa diperlukan pupuk KCl, sedangkan untuk mendapatkan target hasil  gabah 7 t/ha tanpa pengembalian jerami dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha dan 50 kg/ha dengan pengambalian jerami ke lahan sawah. 


Bila perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha), untuk mencapai terget hasil 5 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha serta 50 kg/ha dengan pengembalian  jerami ke lahan, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  100 kg/ha dan 50 kg/ha dengan pengembalian jerami ke lahan. Bila tingkat perbedaan hasil tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil 5 t/ha tanpa dan dengan pengembalian jerami ke lahan diperlukan pupuk KCl  sebanyak  100 kg/ha, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 125 kg/ha dan 100 kg/ha dengan pengembalian jerami ke lahan sawah (Tabel 6).

Tabel 6. Rekomendasi pemupukan K berdasarkan tingkat perbedaan hasil antara petak omisi tanpa pupuk K dengan pemupukan lengkap NPK.
Target hasil

Pengelolaan jerami
Pupuk K2O (kg KCl/ha)
Beda hasil rendah (< 1 t/ha)
Beda hasil sedang (1-2 t/ha)
Beda hasil tinggi (> 2 t/ha)
5 t/ha
Tanpa jerami
50
75
100
Dengan jerami
0
50
100
7 t/ha
Tanpa jerami
75
100
125
Dengan jerami
50
50
100

KESIMPULAN
Ada dua cara pemberian pupuk N (Urea) dengan menggunakan BWD, yaitu 1). Dosis dan waktu pemberian N berdasarkan BWD. Dengan cara ini, pemupukan pertama diberikan 10-14 hari setelah tanam (HST), tanpa menggunakan BWD dengan dosis 75 kg Urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg Urea pada musim hasil rendah. 
Pemberian pupuk selanjutnya dilakukan menggunakan BWD dengan selang waktu 7-10 hari dan dilakukan  pada 28-62 HST. Bila pengukuran BWD kecil  dari batas kritis pemupukan segera diberi pupuk Urea sebanyak 100 kg/ha pada musim hasil tinggi serta 75-100 kg Urea/ha pada musim hasil rendah dan 2). Dosis dan waktu pemberian N ditentukan, sedangkan BWD digunakan sebagai penyempurnaan pemupukan. 
Dengan cara ini, pemupukan pertama diberikan 10-14 hari setelah tanam (HST), tanpa menggunakan BWD dengan dosis 75 kg Urea/ha pada musim hasil tinggi, serta 0-50 kg Urea pada musim hasil rendah. 
Pemberian pupuk kedua dilakukan pada stadia kritis pertumbuhan tanaman, yaitu anakan aktif (32-40 HST) menggunakan BWD dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 50 kg Urea (BWD > 4), dan 125 kg Urea/ha (BWD = < 3) pada musim hasil tinggi, sedangkan pada musim hasil rendah dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 0 kg Urea (BWD > 4), dan 100 kg Urea/ha (BWD = < 3).

Pemupukan ketiga diberikan pada fase primordia (50-60 HST) dengan dosis 100 kg Urea (BWD = 3,5), 75 kg Urea (BWD > 4), dan 125 kg Urea/ha (BWD = < 3) pada musim hasil tinggi, sedangkan pada musim hasil rendah dengan dosis 75 kg Urea (BWD = 3,5), 0-50 kg Urea (BWD > 4), dan 100 kg Urea/ha (BWD = < 3).

Berdasarkan hasil analisis status hara P tanah, rekomendasi pemupukan P pada lahan sawah berstatus P rendah (< 20 mg P2O5) sebanyak 100-125 kg SP-35/ha/MT, pada lahan sawah berstatus P sedang (20-40 mg P2O5) sebanyak 75 kg SP-36/ha/MT, dan pada lahan sawah berstatus P tinggi (> 20 mg P2O5) sebanyak 50 kg SP-36/ha/MT. 
Rekomendasi pupuk KCl sangat ditentukan oleh pengembalian/pemberian jerami ke lahan sawah, bila jerami dikembalikan ke lahan, pemberian pupuk KCl cukup diberikan pada lahan sawah dengan status K rendah sebanyak 50 kg KCl/ha, sedangkan pada lahan sawah berkadar K sedang dan tinggi tidak perlu diberi pupuk KCl.

Berdasarkan petak omisi P dan K, rekomendasi pupuk didasarkan kepada tingkat perbedaan hasil tanpa pupuk P atau K dibandingkan dengan pemupukan lengkap (NPK). Bila tingkat perbedaan hasil tanpa P kecil (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 50 dan 75 kg SP-36/ha/MT. Bila tingkat perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha) serta tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil gabah 5 dan 7 t/ha dibutuhkan pupuk P sebanyak 75 dan 100 kg SP-36/ha/MT serta  100 dan 125 kg SP-36/ha/MT.

Berdasarkan petak omisi K, bila tingkat perbedaan hasil tanpa K rendah (< 1 t/ha), untuk mendapatkan target  hasil gabah 5  t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 50 kg/ha/MT dan dengan pengembalian jerami ke lahan sawah tanpa diperlukan pupuk KCl, sedangkan untuk mendapatkan target hasil  gabah 7 t/ha tanpa pengembalian jerami dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha dan 50 kg/ha/MT dengan pengambalian jerami ke lahan sawah. 
Bila perbedaan hasil sedang (1-2 t/ha), untuk mencapai terget hasil 5 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  75 kg/ha/MT serta 50 kg/ha/MT dengan pengembalian  jerami ke lahan, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan dibutuhkan pupuk KCl sebanyak  100 kg/ha/MT dan 50 kg/ha/MT dengan pengembalian jerami ke lahan. 
Bila tingkat perbedaan hasil tinggi (> 2 t/ha), untuk mendapatkan target hasil 5 t/ha tanpa dan dengan pengembalian jerami ke lahan diperlukan pupuk KCl  sebanyak  100 kg/ha/MT, sedangkan untuk mendapatkan target hasil 7 t/ha tanpa pengembalian jerami ke lahan sawah dibutuhkan pupuk KCl sebanyak 125 kg/ha/MT dan 100 kg/ha/MT dengan pengembalian jerami ke lahan sawah.

Sumber: http://sumbar.litbang.pertanian.go.id

Posting Komentar

0 Komentar