My Widget

header ads

Wereng Batang Coklat (WBC) Padi dan Usaha Pengendaliannya

Wereng Batang Coklat (WBC) Padi dan Usaha Pengendaliannya
Seputar Padi - Wereng Batang Coklat (WBC) Nilaparvata lugens Stal. telah lama dikenal sebagai Hama Wereng Batang Coklat pada tanaman padi di Indonesia, tetapi baru sejak tahun 1970 hama ini meningkat secara drastis menjadi hama utama yang senantiasa mengancam produksi padi di Indonesia. Siklus serangan wereng batang coklat (WBC) padi berkisar antara 4-8 tahunan. Oleh karena itu, petani tidak boleh lengah untuk selalu memantau dan melakukan pengendalian segera tanaman padinya. Mulai dari pencegahan sampai dengan pengendaliannya.

WBC dapat menyerang tanaman padi pada semua tahap pertumbuhan tanaman (mulai dari persemaian sampai waktu panen). Nimfa dan WBC dewasa menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman pada bagian pangkal padi. 

Gejala yang terlihat pada tanaman berupa kelayuan dan menguningnya daun, mulai dari daun tua kemudian meluas dengan cepat ke seluruh bagian tanaman, sehingga akhirnya tanaman menjadi mati. Dalam keadaan populasi tinggi dapat mengakibatkan matinya tanaman dalam satu hamparan atau dapat menyebabkan terjadinya puso. 

Gejala yang ditunjukkan yaitu tanaman padi menjadi kuning dan kering dengan cepat (berwarna kecoklatan seperti terbakar). Kondisi tersebut dikenal dengan istilah 'hopperburn'. 

WBC dapat merusak tanaman padi secara langsung yaitu dengan cara menghisap cairan sel tanaman, dan juga dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit kerdil rumput (grassy stunt) tipe 1 dan 2 serta kerdil hampa (ragged stunt).
Penanaman varietas unggul dalam areal luas mengakibatkan, keanekaragaman lingkungan menjadi berkurang. Varietas unggul yang mempunyai anakan banyak, tumbuh subur dan rimbun, akan menciptakan keadaan iklim mikro yang sangat sesuai untuk perkembangan hama WBC. 

Penanaman varietas unggul yang memiliki ketahanan gen tunggal terhadap WBC mengakibatkan tekanan seleksi yang kuat terhadap hama tersebut, sehingga mendorong perkembangan biotipe baru yang mampu mematahkan varietas yang semula tahan. Tersedianya pengairan yang cukup telah mendorong petani untuk menanam padi terus menerus, menyebabkan tersedianya makanan dan tempat berkembang biak bagi WBC secara berkesinambungan. 

Pada kondisi tanaman yang sudah mengalami hopperburn atau tanaman padi sudah dilakukan pemanenan, WBC bermigrasi dan menyebar ke lahan pertanaman padi baru. WBC mampu beradaptasi terhadap pergantian varietas tanaman dengan membentuk biotipe ataupun koloni baru yang lebih resisten. Penggunaan insektisida yang tidak tepat jenis, dosis, konsentrasi, waktu dan cara aplikasinya selain tidak efektif ternyata dapat menyebabkan resistensi, resunjersi, munculnya hama sekunder dan akibat samping lainnya yang tidak diinginkan.

Pengalaman dalam menanggulangi hama WBC sejak musim tanam 1974 – 1975 sampai saat ini, menunjukkan bahwa pengendalian WBC tidak pernah berhasil bila hanya mengandalkan satu cara pengendalian saja. Oleh karena itu, maka sistem pengendalian yang dilaksanakan adalah melalui sistem pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu sistem pengendalian populasi hama dengan menerapkan berbagai cara pengendalian yang serasi sehingga tidak menimbulkan kerugian ekonomi dan aman terhadap lingkungan. Rekomendasi secara umum, yaitu: 

(a) Tanam varietas tahan wereng coklat, 
(b) Tanam serempak, selang waktu tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 3 minggu, 
(c) Pergiliran varietas, gunakan yang berumur genjah, 
(d) Setiap varietas tidak ditanam lebih dari 2 kali berturut-turut dalam setahun, diselingi tanaman palawija, 
(e) Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan akibat serangan hama wereng coklat, dan 
(f) Pada tanaman terserang, keringkan petakan 3-4 hari. Lahan bebas dari tungguh jerami, segera setelah panen tunggul jerami disingkirkan dari lahan atau segera dibajak.
Teknik lebih rinci pengendalian WBC, terutama apabila terjadi serangan pada fase pengisian gabah. Teknik ini merupakan pembaruan dan perbaikan terhadap praktik yang dilakukan petani. Selain itu, diarahkan agar tidak meluas ke tanaman sehat. 
Yang perlu diperhatikan apabila terjadi serangan:
  1. Amati populasinya pada pangkal batang, bila sedikit atau rendah (kurang dari 10 ekor per rumpun), tanaman disemprot menggunakan agensia hayati dengan larutan jamur Verticillium dan Beauveria
  2. Apabila populasinya tinggi (lebih dari 10 ekor per rumpun), pasang lampu perangkap (seperti pada gambar di bawah) pada pematang (1 ha dipasang 10 lampu perangkap), diikuti dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida anjuran (misalnya Abuki 50 SL dan Virtako 300 SC). Penyemprotan insektisida sebaiknya dimulai jam 09.00 atau sore hari. Dalam penyemprotan (baik agensia hayati maupun insektitisa), arahkan nozle sprayer ke pangkal batang. Sebab, WBC bergerombol di pangkal batang padi. Pengendalian WBC hendaknya dilakukan serentak dalam hamparan. Sebab, petak yang tidak dilakukan pengendalian, akan menjadi sumber bagi petak yang dikendalikan. Dengan demikian, kedua hal itu akan meningkatkan efektivitas tindakan pengendalian, sekaligus menghindarkan kesia-siaan, tegasnya.
  3. Jika dipandang perlu, lakukan panen segera (panen dini) untuk menghindari gagal panen.
Usaha Pengendalian
1. Penanaman varietas tahan
Penanaman varietas padi yang tahan terhadap WBC adalah penting untuk mencegah terjadinya ledakan hama. Perubahan gen oleh bahan kimia secara signifikan dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat resistensi WBC pada padi. Beberapa insektisida kimia, misalnya imidakloprid, dapat mempengaruhi ekspresi gen tanaman padi dan dengan demikian meningkatkan kerentanan terhadap WBC. Dalam upaya untuk mengendalikan WBC lebih spesifik-spesies, peneliti mencoba untuk mengembangkan metode mematikan gen tertentu yang berpengaruh terhadap pencernaan, ketahanan dan metabolisme xenobiotik WBC. Banyak gen baru untuk fungsi-fungsi ini telah terdeteksi di jaringan dari usus BPH. Beberapa lektin tumbuhan adalah antifeedants untuk WBC dan jika benar formulasinya mungkin memiliki potensi untuk melindungi tanaman padi terhadap WBC.


2. Penanaman Serempak
Tanam serempak dilakukan untuk daerah/areal sekurang-kurangnya satu petak tersier atau satu wilayah kelompok tani dengan selisih waktu tanam 2 minggu atau selisih waktu panen empat minggu paling lama. Atau dengan kata lain varietas yang digunakan harus berumur seragam. Dengan cara ini dapat dicegah terjadinya tumpang tindih populasi antar generasi karena siklus hidup WBC dapat terputus pada saat pengolahan di antara dua periode tanam.


3. Pergiliran Tanaman
WBC hanya dapat hidup dengan baik pada tanaman padi. Jadi untuk memutuskan siklus hidupnya dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman, minimal menanam satu kali tanaman non-padi, atau dibiarkan bera sampai dua bulan setiap tahun.


4. Pengendalian Hayati
Sesungguhnya di lapangan terjadi pengendalian secara hayati yang dilakukan oleh musuh-musuh alami WBC. Diantara musuh alami tersebut yang paling efektif mengendalikan populasi WBC adalah laba-laba predator Lycosa pseudoannulata. Laba-laba ini dapat memangsa 10-12 ekor imago atau 15-20 ekor nimfa setiap hari. Predator lain yang tercatat sebagai musuh alami WBC adalah kepik Micrivelia douglasi dan Cyrtorhinus lividipennis, kumbang Paederus fuscipes, Ophionea nigrofasciata dan Micraspis. Selain pengendalian WBC dengan musuh alami diatas, saat ini sudah dikembangkan pula agensia hayati lain yang berasal dari kelompok jamur, diantaranya adalah Beauveria bassiana, Metharizium, dan Hirsutella citriformis.


5. Pengendalian Kimia
Pengendalian kimia dilakukan apabila cara-cara lain tidak mungkin lagi dan populasi WBC sudah berada diatas ambang ekonomi. Ambang ekonomi yang telah ditetapkan adalah rata-rata 10 ekor per rumpun untuk umur tanaman padi kurang dari 40 hst, atau rata-rata 20 ekor per rumpun untuk tanaman padi lebih dari 40 hst. Penggunaan pestisida diusahakan sedemikian rupa sehingga efektif, efesien dan aman bagi lingkungan. Pada varitas tahan tidak perlu digunakan insektisida kecuali kalau ketahanannya patah, sedangkan aplikasi insektisida pada varitas rentan harus didasarkan pada hasil pengamatan. Pengendalian WBC dengan menggunakan insektisida sintetik hasilnya efektif dan efisien, namun dalam prakteknya harus berpedoman pada prinsip 6 (enam) Tepat, yaitu : Tepat Jenis, Tepat Sasaran, Tepat Cara, Tepat Waktu, Tepat Konsentrasi/Dosis dan Tepat Lokasi.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id

Posting Komentar

0 Komentar